Backpackeran ke Belitung - Part 2
Setelah cerita perjalanan hari pertama saya dan kawan-kawan di Negeri Laskar Pelangi ini yang dibumbui oleh kejadian-kejadian yang tidak terduga dan mengagumkan, saya akan menceritakan dan menggambarkan betapa indahnya Pulau Belitung ini pada hari kedua kami di sana.
Dan di sini saya harus kehilangan..........
Yaa, masih dengan saya dan tiga orang teman saya dari Jakarta. Pada hari kedua ini kami merencanakan untuk menjelajah pantai-pantai dan pulau-pulau di bagian Utara pulau Belitung. Malam sebelumnya, kami mencari informasi Matahari terbit pukul berapa di Belitung supaya kami tidak kelewatan momen-momen matahari membuka sinarnya di langit Belitung. Berdasarkan informasi yang kami dapat Matahari terbit sekitar pukul 5.45. Sehingga pukul 5 pagi kami bangun dan bersiap untuk mengejar sunrise di Pantai Tanjung Kelayang. Tidak mau ketinggalan, kami ngebut pagi itu. Ditemani dengan angin pagi yang dingin, udara yang sejuk, jalanan yang sepi sekali kami menempuh perjalanan selama setengah jam dari penginapan. Cukup jauh rupanya walaupun kami sudah melaju dengan kecepatan yang tinggi.
Rupanya saat kami sampai, langit terlihat mendung. Sempat menghela nafas, namun kami optimis Matahari akan muncul pagi itu. Turun dari motor, kami melirik ke arah kiri dan melihat kumpulan kapal-kapal yang akan mengantarkan wisatawan menelilingin pulau-pulau. Kami mencoba mendekat, sepi tidak ada pengemudi kapal atau awak kapal pagi itu. Namun, tiba-tiba kami melihat seorang bapak yang cukup tua terlihat dari raut wajahnya yang sudah tidak lagi kencang. Kami mencoba bertanya kepada bapak itu, singkat cerita kami nego harga dan akhirnya kami berempat mendapat harga 400rb untuk keliling pulau-pulau satu hari dan 35rb/orang untuk alat snorkeling. Harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan tawaran-tawaran yang kami dapatkan sebelumnya. Kami janjian dengan bapak itu untuk dijemput jam 8 pagi.
Sembari menunggu, kami ditemani oleh pemandangan Matahari yang kemudian muncul pagi itu. Tidak mau ketinggalan, kami langsung berlari ke arah pantai, mencari spot terbaik untuk mengambil fenomena itu. Disekitar pantai ada tulisan "Welcome to Belitung", kami tidak memilih mengambil foto di tulisan tersebut pagi itu karena di belakang tulisan tersebut merupakan cahaya Matahari yang baru muncul dan hasilnya pasti muka-muka kami gak kelihatan. Maka kami putuskan untuk menikmati dan mengambil tulisan tersebut nanti sore saja.
Sebelum berkeliling, kami sempatkan diri untuk mengisi perut kami ini di warung-warung sekitar pantai. Saya suka sekali warung-warung di sini rapih penataannya. Karena nanti kami akan berada seharian di pulau-pulau dan di laut makan kami juga membawa bekal makan siang yang juga kami beli di warung tersebut. Harga makanan di warung ini juga tidak begitu mahal, menurut saya masih wajar padahal letaknya di tempat wisata. Untuk 1 porsi nasi goreng dihargai 10rb saja. Waktu menunjukkan pukul 8 dan dari kejauhan nampak kapal kami sudah siap dengan ditandai lambaian tangan nahkoda kami. Semudah itu bapak itu menemui kami dan ingat bahwa kami yang tadi pagi negosiasi harga dengab dia?? Ya, karena pagi itu hanya kami yang berada di area sekitar pantai itu. Entah mengapa padahal itu hari sabtu. Tetapi saya mengambil kesimpulan, mungkin saja memang warganya tidak biasa memburu sunrise jadi kami datang terlalu pagi, lalu saya coba cek beberapa travel ternyata kebanyakan dari mereka membawa wisatawan memburu sunrise di tempat yang berbeda. Saat kami mulai melaju dari bibir pantai, barulah terlihat beberapa elf yang membawa rombongan wisatawan. Inilah perjalanan kami :
1. Pulau Pasir
Pertama kali berhenti adalah Pulau Pasir, ya pulau ini hanyalah berupa gundukan pasir yang tidak terlalu luas di tengah laut yang hanya bisa terlihat ketika air surut yaitu pagi hari sekitar pukul 8-9 pagi atau pukul 2 sore. Selain di jam-jam tadi pulau pasir akan tertutup oleh air laut karena air mulai pasang. Saya memang memaksakan teman-teman untuk berangkat tepat pukul 8 dan menjadikan pulau ini destinasi pertama sampai-sampai kami melanjutkan sarapan di atas kapal hanya karena saya ingin menemui kesukaan saya yaitu Bintang Laut. Di sini kita akan menemui beberapa ekor Bintang Laut. Untuk menuju Pulau Pasir, kami melewati beberapa Pulau dengan Batu Granit yang cantik-cantik, namun kami tidak bisa turun ke pulau tsb karena karang dan batu yang cukup tinggi di sekitar pulau itu.
Pulau-pulau yang dilewati
Pulau Pasir
2. Pulau Lengkuas
Setelah puas bermain-main di Pulau Pasir, kami melanjutkan perjalanan kami ke Pulau Lengkuas. Di pulau ini terdapat Mercusuar peninggalan zaman Belanda setinggi 70 meter. Mercusuar tersebut masih beroperasi dengan baik sampai saat ini dan kita bisa naik ke atas Mercusuar ini dengan menggunakan tangga. Untuk menikmatinya pun tidak dipungut biaya, hanya ada kotak untuk sumbangan sukarela pengunjung saja. Namun, saat kami ke sana Mercusuar ini sedang direnovasi sehingga kami tidak bisa naik ke atas. Di Pulau Lengkuas ini ada banyak aktifitas yang bisa di lakukan. Kita visa melihat penangkaran Penyu Hijau, hunting foto di sekitar bebatuan granit, bermain-main dan berenang di sekitar pantai, snorkeling di perairan sekitar pulau ini atau duduk-duduk saja sekedar ngadem. Kalian akan dibuat betah berlama-lama di pulau ini.
Oiya, di pulau ini juga ada fasiitas toilet, untuk yang ingin snorkeling di sekitar pulau ini bisa ganti baju di pulau ini.
Pada saat snorkeling di perairan sekitar P.Lengkuas ini, ada kejadian paling menyedihkan sepanjang saya hidup haha (masih saja tertawa, katanya paling menyedihkan).
Back foward ke semalam sebelum saya berangkat ke Belitung. Malam itu saya dibikin pusing kepalang, bayangkan besok pagi-pagi buta saya akan berangkat ke Belitung yang terkenal dengan wisata baharinya, eh saya kelupaan untuk mempersiapkan kamera underwater. Ketika itu saya belum punya, maka saya ajak teman saya untuk sewa go pro, tetapi teman saya malah tidak merespon. Untuk mengantisipasinya, saya membeli plastik kedap udara untuk handphone. Setidaknya saya pikir untuk sekedar snorkeling masih bisa menggunakan handphone karena tidak akan melakukan penyelaman juga. Setidaknya ada foto di dalam airnya. Dan ternyata, dalam perjalanan ke bandara pagi itu teman saya ini menyodorkan saya sekotak case yang isinya go pro hero4 yang baru ia beli. Senangnya bukan main !!!.
Oke kembali ke saat sedang snorkeling. Saat berangkat sampai saat masih di kapal, saya mengalungkan handphone saya dengan menggunakan plastik kedap udara yang sudah saya beli itu. Pikir saya, sepanjang perjalanan di kapal saya mau mengabadikan gambar-gambar menggunakan handphone dan supaya handphone saya tidak terkena cipratan air laut saat di kapal. Hanya itu ! Tetapi saat mau snorkeling, saya baru tahu kalau ketiga teman saya ini belum pernah snorkeling. Mereka meminta saya turun duluan. Karena pakaian sudah siap, saya pikir langsung nyebur saja. Tetapi, saya lupa kalau handphone masih menggantung di leher saya. Setelah beberapa menit saya baru tersadar. Hyaaaaaa... Buru-buru saya cek, ternyata aman saudara-saudara. Kemudian karena posisi saya yang sedikit jauh dari kapal, saya pikir lanjutkan saja. Akhirnya saya foto-foto beberapa spot menggunakan handphone saya. Tetapi, lama kelamaan setelah saya foto-foto baru terlihat plastik tersebut kemasukan air laut. Hyaaaaaaa... Saya teriak lagi dan buru-buru berenang melaju ke kapal. Saya langaung tidak pedulikan apapun kecuali keselamatan handphone saya. Saya langsung buka cashingnya dan jemur di atas kapal. Masih sempat menyala, namun saya matikan agar tidak konslet. Tetapi dikarenakan tipe handphone saya adalah handphone dengan batterai yang tertanam, maka saya tidak dapat melepaskan batterainya itu. Saya hanya pasrah dengan raut muka yang berubah memelas !!
3. Pulau Kepayang
Waktu semakin siang, Matahari mulai mencondongkan dirinya. Kami mendapat spot snorkeling yang kurang bagus. Sebenarnya kami diberi kesempatan snorkeling di tempat yang lebih jauh dan lebih bagus. Namun, mungkin karena teman-teman yang lain iba melihat saya maka kami menghentikan snorkeling siang itu. Kami mampir ke pulau yang sangat tenang yaitu Pulau Kepayang. Pulau ini ditandai oleh batu yang berukuran sangat besar dan sekelilingnya lebat pepohonan. Meninggalkan kejadian mengenaskan saya tadi, kalian akan dibuat mabuk kepayang sampai pulas tertidur ketika berada di pulau ini. Pulau ini biasa dipakai untuk beristirahat ketika wisatawan lelah beraktivitas berkeliling pulau. Di dalam pulau ini seperti hutan yang luas. Sangat teduh dan damai. Di dalam pulau ini juga ada restoran dengan desain natural melengkapi suasana pulau ini. Ada juga fasilitas toilet dan konservasi penyu.
Puas makan siang dan menikmati pulau ini, saya yang masih berduka menunggu kabar keselamatan handphone saya ini, mencoba menikmati pulau ini. Berjalan menyusuri bibir pantai, saya menemukan hammock yang terbuat dari jaring-jaring untuk menangkap ikan yang terikat rapi dikedua pohon di sisi barat pulau ini. Saya pun langsung membaringkan diri di hammock itu dengan menjemur handphone saya di bawah terik Matahari di samping pohon di mana hammock itu dikaitkan. Saya pun terlelap. Tak pernah dalam hidup saya saya benar-benar dapat merasakan kedamaian saat terlelap di dalam keadaan berduka. Pulau ini benar-benar membuat saya mabuk kepayang hingga terlelap. Recommend banget buat kalian yang mau istirahat di siang bolong.
Oiya, di pulau ini juga ada fasiitas toilet, untuk yang ingin snorkeling di sekitar pulau ini bisa ganti baju di pulau ini.
Pada saat snorkeling di perairan sekitar P.Lengkuas ini, ada kejadian paling menyedihkan sepanjang saya hidup haha (masih saja tertawa, katanya paling menyedihkan).
Back foward ke semalam sebelum saya berangkat ke Belitung. Malam itu saya dibikin pusing kepalang, bayangkan besok pagi-pagi buta saya akan berangkat ke Belitung yang terkenal dengan wisata baharinya, eh saya kelupaan untuk mempersiapkan kamera underwater. Ketika itu saya belum punya, maka saya ajak teman saya untuk sewa go pro, tetapi teman saya malah tidak merespon. Untuk mengantisipasinya, saya membeli plastik kedap udara untuk handphone. Setidaknya saya pikir untuk sekedar snorkeling masih bisa menggunakan handphone karena tidak akan melakukan penyelaman juga. Setidaknya ada foto di dalam airnya. Dan ternyata, dalam perjalanan ke bandara pagi itu teman saya ini menyodorkan saya sekotak case yang isinya go pro hero4 yang baru ia beli. Senangnya bukan main !!!.
Oke kembali ke saat sedang snorkeling. Saat berangkat sampai saat masih di kapal, saya mengalungkan handphone saya dengan menggunakan plastik kedap udara yang sudah saya beli itu. Pikir saya, sepanjang perjalanan di kapal saya mau mengabadikan gambar-gambar menggunakan handphone dan supaya handphone saya tidak terkena cipratan air laut saat di kapal. Hanya itu ! Tetapi saat mau snorkeling, saya baru tahu kalau ketiga teman saya ini belum pernah snorkeling. Mereka meminta saya turun duluan. Karena pakaian sudah siap, saya pikir langsung nyebur saja. Tetapi, saya lupa kalau handphone masih menggantung di leher saya. Setelah beberapa menit saya baru tersadar. Hyaaaaaa... Buru-buru saya cek, ternyata aman saudara-saudara. Kemudian karena posisi saya yang sedikit jauh dari kapal, saya pikir lanjutkan saja. Akhirnya saya foto-foto beberapa spot menggunakan handphone saya. Tetapi, lama kelamaan setelah saya foto-foto baru terlihat plastik tersebut kemasukan air laut. Hyaaaaaaa... Saya teriak lagi dan buru-buru berenang melaju ke kapal. Saya langaung tidak pedulikan apapun kecuali keselamatan handphone saya. Saya langsung buka cashingnya dan jemur di atas kapal. Masih sempat menyala, namun saya matikan agar tidak konslet. Tetapi dikarenakan tipe handphone saya adalah handphone dengan batterai yang tertanam, maka saya tidak dapat melepaskan batterainya itu. Saya hanya pasrah dengan raut muka yang berubah memelas !!
3. Pulau Kepayang
Waktu semakin siang, Matahari mulai mencondongkan dirinya. Kami mendapat spot snorkeling yang kurang bagus. Sebenarnya kami diberi kesempatan snorkeling di tempat yang lebih jauh dan lebih bagus. Namun, mungkin karena teman-teman yang lain iba melihat saya maka kami menghentikan snorkeling siang itu. Kami mampir ke pulau yang sangat tenang yaitu Pulau Kepayang. Pulau ini ditandai oleh batu yang berukuran sangat besar dan sekelilingnya lebat pepohonan. Meninggalkan kejadian mengenaskan saya tadi, kalian akan dibuat mabuk kepayang sampai pulas tertidur ketika berada di pulau ini. Pulau ini biasa dipakai untuk beristirahat ketika wisatawan lelah beraktivitas berkeliling pulau. Di dalam pulau ini seperti hutan yang luas. Sangat teduh dan damai. Di dalam pulau ini juga ada restoran dengan desain natural melengkapi suasana pulau ini. Ada juga fasilitas toilet dan konservasi penyu.
Puas makan siang dan menikmati pulau ini, saya yang masih berduka menunggu kabar keselamatan handphone saya ini, mencoba menikmati pulau ini. Berjalan menyusuri bibir pantai, saya menemukan hammock yang terbuat dari jaring-jaring untuk menangkap ikan yang terikat rapi dikedua pohon di sisi barat pulau ini. Saya pun langsung membaringkan diri di hammock itu dengan menjemur handphone saya di bawah terik Matahari di samping pohon di mana hammock itu dikaitkan. Saya pun terlelap. Tak pernah dalam hidup saya saya benar-benar dapat merasakan kedamaian saat terlelap di dalam keadaan berduka. Pulau ini benar-benar membuat saya mabuk kepayang hingga terlelap. Recommend banget buat kalian yang mau istirahat di siang bolong.
4. Pulau Batu Berlayar
Dan inilah pulau terakhir yang kami kunjungi. Pulau yang sangat terkenal dan menjadi tujuan utama wisata bahari di pulau Belitung ini. Pulau yang sangat menakjubkan !. Kenapa? Di pulau ini berdiri dengan gagahnya batu yang berbentuk seperti layar sebuah perahu. Dan dikelilingi batu batu besar yang kokoh berdiri hanya pada gundukan pasir yang tidak terlalu luas yang membentuk pulau ini. Penasaran? Datang saja!!
Dan di pulau ini jika beruntung kita dapat bertemu lagi dengan Bintang Laut yeah !!
Dan inilah pulau terakhir yang kami kunjungi. Pulau yang sangat terkenal dan menjadi tujuan utama wisata bahari di pulau Belitung ini. Pulau yang sangat menakjubkan !. Kenapa? Di pulau ini berdiri dengan gagahnya batu yang berbentuk seperti layar sebuah perahu. Dan dikelilingi batu batu besar yang kokoh berdiri hanya pada gundukan pasir yang tidak terlalu luas yang membentuk pulau ini. Penasaran? Datang saja!!
Dan di pulau ini jika beruntung kita dapat bertemu lagi dengan Bintang Laut yeah !!
Langit yang sedikit berawan sore itu menguntungkan kami dalam beberapa spot pengambilan foto. Dan kondisi yang tidak begitu ramai saat itu membuat kami tidak perlu mengantri lama untuk foto di beberapa spot terkenal. Sore itu kami memutuskan menyelesaikan aktivitas keliling pulau. Kami kembali ke Pantai Tanjung Kelayang untuk bersih-bersih karena kami akan mengejar sunset di Pantai Tanjung Tinggi.
Sebelum beranjak ke Pulau Tanjung Tinggi, belum ke Belitunf rasanya jika belum foto di spot yang tadi pagi sengaja kami lewatkan. Ya, tulisan "Welcome to Belitung" sore itu kami mendapat pencahayaan yang cukup bagus untuk memuat wajah kami pada layar kamera.
5. Pantai Tanjung Tinggi
Pantai Tanjung Tinggi merupakan salah satu tempat syuting film Laskar Pelangi. Letaknya tidak begitu jauh dari pantai Tanjug Kelayang. Hanya lurus saja mengikuti panah arah pantai. Di pantai Tanjung Tinggi banyak warga yang menikmati sore hari dengan meminum kelapa muda atau menikmati jajanan yang ada di sini. Kami pun menghabiskan waktu untuk berkeliling dan menikmati detik-detik menghilangnya Matahari dengan memakan bakso dan menikmati es Kelapa muda. Pantai ini memiliki karakter pasir yang halus sekali seperti tepung terigu dan memiliki air yang tenang sehingga cocok untuk berenang. Di pantai ini juga ada fasilitas wahana air seperti Banana Boat, Jet Ski, dll.
Hari mulai gelap, kami melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan. Kami sempat mengunjungi tempat belanja oleh-oleh yang cukup terkenal dengan kerupuknya. Yaitu Kerupuk cap Keluarga di Jalan Gatot Subroto. Di sini juga di jual sirup jeruk kunci, terasi Belitung, lada Belitung, dan aneka macam kerupuk pastinya.
Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu...
Makan makanan khas Belitunf yaitu Mie Atep. Kalian bisa menikmatinya di salah satu Rumah Makan Mie Atep yang sudah puluhan tahun ini yang berada di jalan Sriwijaya. Mie Atep ini ukurannya besar-besar dan diberi kuah yang sudah diracik dengan bumbu-bumbu yang rasanya berbeda dengan kuah-kuah mie di tempat lain. Belum lengkap perjalanan kamu ke Belitung kalau kamu belum nyobain Mie Atep.
Sebenarnya kami sudah kenyang dan mau pulang ke penginapan, tetapi kami penasaran dengan tempat nongkrong di Belitung yaitu Rumah Belitong Timpu Duluk di Jalan Lettu Mad Dau no. 22, Kampung Parit, Tanjug Pandan. Dari namanya jelas rumah makan ini bergaya tempo dulu yang terlihat dari segi desain bangunan yang dinobatkan menjadi Rumah Khas Belitong dan desain interior yang memasangkan barang-barang tempo dulu yang di gunakan masyarakat Belitung. Di Belitung, kebanyakan makanan bukan dibungkus menggunakan Daun Pisang tetapi menggunakan Daun khas Belitung yaitu Daun Simpor. Jadi, di Rumah Makan ini pun makanan disajikan dengan menggunakan Daun Simpor. Yang unik di sini juga adalah tempat tisu yang terbuat dari corong bensin, lalu minuman disajikan dengan menggunakan gelas kaleng.
Kami memesan makanan khas Belitung yaitu Gangan Kelapa Muda. Gangan itu sendiri merupakan masakan laut yang dibumbui dengan rempah-rempah Belitong dan dipadukan dengan nanas. Karena disajikan dengan menggunakan Kelapa Muda maka namanya Menjadi Gangan Kelapa Muda. Tidak hanya Gangan, kami juga memesan Tahu Bungkus Simpor dan Cumi Goreng karena banyak menu makanan yang sudah habis, malam itu sangat ramai sekali pengunjung bahkan kami tidak kebagian tempat di dalam ruangan. Tahu Bungkus Simpor sendiri seperti pepes tahu sih, hanya saja sibungkus menggunakan Daun Simpor. Harga Gangan adalah 45rb, selain itu harga makanan lainnya masih bisa dibilang standar dengan rasa yang lezat dan cukup enak. Kalau weekend sebaiknya reservasi dulu karena sudah dipastikan ramai.
Sebelum beranjak ke Pulau Tanjung Tinggi, belum ke Belitunf rasanya jika belum foto di spot yang tadi pagi sengaja kami lewatkan. Ya, tulisan "Welcome to Belitung" sore itu kami mendapat pencahayaan yang cukup bagus untuk memuat wajah kami pada layar kamera.
5. Pantai Tanjung Tinggi
Pantai Tanjung Tinggi merupakan salah satu tempat syuting film Laskar Pelangi. Letaknya tidak begitu jauh dari pantai Tanjug Kelayang. Hanya lurus saja mengikuti panah arah pantai. Di pantai Tanjung Tinggi banyak warga yang menikmati sore hari dengan meminum kelapa muda atau menikmati jajanan yang ada di sini. Kami pun menghabiskan waktu untuk berkeliling dan menikmati detik-detik menghilangnya Matahari dengan memakan bakso dan menikmati es Kelapa muda. Pantai ini memiliki karakter pasir yang halus sekali seperti tepung terigu dan memiliki air yang tenang sehingga cocok untuk berenang. Di pantai ini juga ada fasilitas wahana air seperti Banana Boat, Jet Ski, dll.
Hari mulai gelap, kami melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan. Kami sempat mengunjungi tempat belanja oleh-oleh yang cukup terkenal dengan kerupuknya. Yaitu Kerupuk cap Keluarga di Jalan Gatot Subroto. Di sini juga di jual sirup jeruk kunci, terasi Belitung, lada Belitung, dan aneka macam kerupuk pastinya.
Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu...
Makan makanan khas Belitunf yaitu Mie Atep. Kalian bisa menikmatinya di salah satu Rumah Makan Mie Atep yang sudah puluhan tahun ini yang berada di jalan Sriwijaya. Mie Atep ini ukurannya besar-besar dan diberi kuah yang sudah diracik dengan bumbu-bumbu yang rasanya berbeda dengan kuah-kuah mie di tempat lain. Belum lengkap perjalanan kamu ke Belitung kalau kamu belum nyobain Mie Atep.
Sebenarnya kami sudah kenyang dan mau pulang ke penginapan, tetapi kami penasaran dengan tempat nongkrong di Belitung yaitu Rumah Belitong Timpu Duluk di Jalan Lettu Mad Dau no. 22, Kampung Parit, Tanjug Pandan. Dari namanya jelas rumah makan ini bergaya tempo dulu yang terlihat dari segi desain bangunan yang dinobatkan menjadi Rumah Khas Belitong dan desain interior yang memasangkan barang-barang tempo dulu yang di gunakan masyarakat Belitung. Di Belitung, kebanyakan makanan bukan dibungkus menggunakan Daun Pisang tetapi menggunakan Daun khas Belitung yaitu Daun Simpor. Jadi, di Rumah Makan ini pun makanan disajikan dengan menggunakan Daun Simpor. Yang unik di sini juga adalah tempat tisu yang terbuat dari corong bensin, lalu minuman disajikan dengan menggunakan gelas kaleng.
Kami memesan makanan khas Belitung yaitu Gangan Kelapa Muda. Gangan itu sendiri merupakan masakan laut yang dibumbui dengan rempah-rempah Belitong dan dipadukan dengan nanas. Karena disajikan dengan menggunakan Kelapa Muda maka namanya Menjadi Gangan Kelapa Muda. Tidak hanya Gangan, kami juga memesan Tahu Bungkus Simpor dan Cumi Goreng karena banyak menu makanan yang sudah habis, malam itu sangat ramai sekali pengunjung bahkan kami tidak kebagian tempat di dalam ruangan. Tahu Bungkus Simpor sendiri seperti pepes tahu sih, hanya saja sibungkus menggunakan Daun Simpor. Harga Gangan adalah 45rb, selain itu harga makanan lainnya masih bisa dibilang standar dengan rasa yang lezat dan cukup enak. Kalau weekend sebaiknya reservasi dulu karena sudah dipastikan ramai.
Puas menyantap semuanya dan kami kekenyangan, kami kembali ke penginapan untuk beristirahat dan sempat mampir ke supermarket di jalan Sriwija.
Baca juga yaa part 1 dan part 3:
























Comments
Post a Comment