Backpackeran ke Belitung - Part 1


Siapa yang tidak tahu tentang Film "Laskar Pelangi" ? Film yang rilis tahun 2008 yang bisa dibilang film tersukses di Indonesia ini yang diadaptasi dari novel karangan Andrea Hirata. 
Cerita yang menginspirasi, para pemain yang berperan dengan baik, film ini semakin bagus dan menarik dengan dibumbui latar pemandangan yang menakjubkan oleh sutradara Riri Riza.
Sementara film ini sukses, lokasi-lokasi yang menjadi tempat syuting film ini pun sukses membuat para pecinta traveling ingin datang dan melihat langsung keindahan tempat tersebut. Lokasi-lokasi tersebut berada di sebuah pulau yang sebelumnya jarang dibincangkan, yaitu Pulau Belitung atau dalam bahasa aslinya Belitong.

Tahun 2015 lalu, Seorang teman saya menceritakan keinginannya untuk jalan-jalan ke lokasi-lokasi tersebut. Beberapa teman sudah merencanakan ke sana, tetapi dia lebih memilih mengajak saya karena lebih cocok untuk diajak jalan-jalan nekat alias tanpa menggunakan jasa travel dan dia pun mengenal karakter saya seperti apa, sehingga dengan beberapa pertimbangan dia meminta saya untuk temani dia menjelajah Negeri Laskar Pelangi tersebut. Saya timbang-timbang sampai pas, cari-cari informasi dari beberapa teman blogger, membuat rincian perjalanan dan budget, sampailah pada akhirnya kata sepakat. Saya mengutamakan backpacking alias jalan-jalan dengan low budget. Dengan segala rincian yang sudah saya buat, saya ajukan layaknya mengajukan proposal perjalanan (sebenernya sih cuma rincian pengeluaran dan itinerary... Haha). Untuk menghemat biaya akomodasi dan biar ada yang fotoin juga, saya minta dia cari dua orang lagi supaya kita pergi berempat. 

Setelah sepakat dan menemukan 2 orang lagi yaitu teman kantor dan sepupunya, tanpa waktu lama kami membeli tiket pesawat yang masih dibilang mahal sebenarnya. Tiket pesawat yang kami dapat Jakarta-Belitung PP 1,1jt (sedangkan biasanya PP 700-800ribuan jika dipesan jauh-jauh hari) untuk 21-23 Agustus 2015. Kami memilih 3 hari 2 malam dengan pertimbangan Belitung itu pulau yang dalam 3-4 hari cukup untuk dijelajahi karena banyak destinasi-destinasi yang searah. Dan kami memilih tanggal tersebut supaya perjalanan kami dan hasil foto-foto kami tidak terlalu ramai. Kenapa? Karena tanggal tersebut merupakan tanggal tua :p kemungkinan orang jalan-jalan itu berkurang, lalu pada tanggal 27-29 Agustus 2015 di Belitung ada acara Festival Laskar Pelangi yang pastinya akan ramai sekali pengunjung dari berbagai daerah untuk mengikuti acara ini, jadi kami tidak memilih tanggal tersebut.

Untuk menjelajahi lokasi-lokasi Negeri Laskar Pelangi, kita harus mendarat dulu di Bandara H.A.S Hanandjoeddin Tanjung Pandan jika menggunakan jalur udara. Ingat, "Tanjung Pandan", banyak sekali orang-orang yang salah membeli tiket tujuan pulau Belitung dengan tujuan Pangkal Pinang Bandara Depati Amir. Padahal, Pangkal Pinang letaknya di Bangka Timur. Dari pulau Bangka untuk ke Belitung harus naik kapal terlebih dahulu sekitar 4 jam. 

Pagi itu kami mengambil penerbangan pukul 6 pagi, karena berangkat terlalu pagi dan menghitung biaya damri x 4 orang dibanding dengan perkiraan biaya taksi dibagi 4 orang ternyata tidak jauh beda maka kami pilih naik taksi ke bandara. (Kurang lebih budget untuk 1 orang sekitar 50rb)


Sebelum keberangkatan, tidak ada kesiapan booking bla-bla-bla, semua kami rencanakan on the spot. Hanya berbekal informasi yang dikumpulkan sebelumnya, modal uang dan modal GPS. Sehari sebelum keberangkatan, teman saya sempat ragu untuk penginapan, daripada penuh nanti cari sana cari sini dan kita belum tahu sama sekali seperti apa kondisi P. Belitung yowes kita memutuskan untuk booking salah satu penginapan murah kelas Melati namanya Belitung Melambai. (200rb untuk 1 malam 1 kamar besar + TV + AC + Kamar Mandi di dalam + Extra Bed, jadi 200rb x 3 hari = 600rb/4 orang, sekitar 125rb/orang untuk 3 hari Loh... Murah kan???)

Karena kami sudah pesan penginapan, jadi tujuan kami ketika sampai di Bandara H.A.S Hanandjoeddin adalah menuju ke penginapan. Kami belum tahu sejauh apa dan ke arah mana kami harus beranjak untuk sampai di penginapan. Info dari pemilik penginapan lama dari bandara ke penginapannya yang juga masih berada di Tanjung Pandan adalah sekitar 20-30 menit (Note : dengan Kondisi jalanan di Belitung yang TIDAK MACET). Berarti untuk ukuran jalan kaki sih LUMAYAN JAUH ! Oke, dengan PeDe kami keluar dari bandara, tidak memesan taksi atau kendaraan sejenisnya dan berharap ada kendaraan murah atau lebih bagus lagi ada yang memberi tumpangan. 

Jalan menjauhi Bandara, tiba-tiba ada sebuah mobil Avanza mendekati kami, kami pikir dia akan kasih tumpangan tapi batin menolak pernyataan itu dan benar saja ternyata dia menawari jasa mengantar ke penginapan dengan dinego-nego per orang 25rb. (Kata Pak Supir tersebut biasanya harga yang dipatok adalah 40rb/orang)




Penginapan di sekitar Belitung Melambai ini juga harganya tidak jauh berbeda untuk dijadikan referensi :) . sesampainya di penginapan, kami beristirahat sejenak selama satu jam karena sebelumnya jam tidur kami dipangkas untuk mengejar penerbangan pagi tadi. Setelah istirahat, kami mencoba bertanya kepada pemilik penginapan untuk menyewa motor. Ternyata beliau menyewakan 1 buah sepeda motor miliknya, dikarenakan kami berempat maka kami perlu 1 motor lagi. Dan beliau membantu mengambil motor sewaan di pasar untuk kami. Motor yang kami sewa cukup murah, 1 motor dihargai 60rb /hari lengkap dengan jas hujan dan 2 buah helm (Jadi 2 hari x 60rb x 2 motor = 240rb/4 orang, satu orang sekitar 60rb untuk 3 hari, dihitung 2 hari karena kata si Bapak pada hari terakhir kami hanya pakai sebentar saja jadi tidak usah dihitung). Setelah kami mendapatkan motor, kami menjalankan kesepakatan seperti yang sudah di rencanakan bahwa pada hari pertama yang akan kami kunjungi adalah wilayah Belitung bagian timur. Di bagian Timur ada daerah yang namanya Gantong. Di sanalah tempat dimana Replika SD Muhammadiyah pada film Laskar Pelangi itu berada. Pukul 10.00 kami berangkat menggunakan 2 motor, sebelumnya kami sempat sarapan di sekitar penginapan. Perjalanan dari penginapan sampai ke Gantong sekitar 2 Jam (Note : dengan kondisi jalanan belitung yang sepi dan kecepatan + 50km/jam seperti dari Bekasi ke Tangerang). Jadi, jauuuuuuuh banget. Perjalanan dihiasi dengan jalanan yang tidak terlalu lebar tetapi tidak juga terlalu sempit, kanan-kiri jalan yang masih banyak hutan dan pepohonan membuat pulau Belitung yang panas ini menjadi teduh. Perjalanan panjang ini tidak hanya hutan, tetapi juga ada perkampungan dengan rumah yang tidak berdempetan seperti di Jakarta, lalu kemudian ketemu hutan lagi, lalu sekian kilometer rawa-rawa, lalu kemudian sekian kilometer perkampungan lagi, hutan lagi dan begitu seterusnya. Kami seperti membelah pulau Belitung.





Tepat pukul 12.00 kami sampai di Replika SD Muhammadiyah Gantong. Tak banyak yang dapat dilakukan karena di sini bukan wisata air, bukan pula wisata yang memiliki wahana-wahana permainan. Hanya keteduhan dan ketenangan yang bisa kita dapat sembari mendapatkan inspirasi dan pembelajaran-pembelajaran yang berharga tentang hidup dan mimpi ketika melihat bangunan ini. Bukan hanya bangunannya saja menurut saya yang menjadi daya tarik, tapi alam sekitar yang alami dan bersih serta asri, jauh dari hiruk pikuk kota dapat memanjakan mata kita. Jika perjalanan hanyalah sebuah perjalanan yang dilakukan begitu saja apa adanya sesuai dengan yang disediakan suatu tempat wisata tersebut, maka perjalanan kalian akan menjadi membosankan. Dan kami punya cara tersendiri untuk menikmati setiap perjalanan kami. Melakukan hal-hal yang konyol, bercanda-tawa, melakoni drama, berlarian seperti kembali ke masa-masa kecil kami, wefie atau sekedar menikmati hembusan angin dan hal-hal unik lainnya membuat perjalanan ini menyenangkan. 


Untuk menikmati tempat ini tidak ada pungutan biaya. Di sekitar bangunan ini ada fasilitas mushola, toilet dan warung-warung kecil milik warga. ada juga sebuah bangunan dengan cat warna-warni seperti pelangi yang di dalamnya juga banyak karya-karya seni. Di dalam sana tempat bekerja seorang pelukis yang melukis bukan pada sebuah kanvas tetapi pada sebuah plastik untuk dasarnya. Teknik yang dilakukan pun berbeda. Biasanya untuk melukis pada sebuah kanvas, warna-warna yang dijadikan dasar atau background terlebih dahulu yang di sapukan di atas sebuah kanvas lalu kemudian ditiban oleh warna-warna pendukung untuk membentuk karakter lain. Sedangkan teknik yang dilakukan oleh pelukis ini adalah kebalikannya. Warna yang paling depan yang untuk membuat karakter disapukan dahulu di atas plastik tersebut baru ditiban oleh warna-warna yang akan menjadi latar lukisan dikarenakan plastik itu transparan dan yang akan dilihat adalah bagian yang tidak disapukan oleh cat-cat. Dengan begitu teknik ini memiliki tingkat kesulitan yang cukul tinggi juga loh. Dan dalam memamerkan hasil karyanya, beliau tidak memungut biaya. Hanya ada kotak kecil di samping pintu untuk orang-orang yang mau menyumbang untuk menghargai karyanya. Dan juga lukisan-lukisan tersebut bisa kita beli, tinggal nego harga saja dengan beliau.





Setelah itu, kami mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata. Keluar dari parkiran kami ke kiri lalu belok kiri (kalau ke kanan ke arah pulang ke penginapan). Jaraknya tidak jauh dari Replika SD ini. 


Lagi-lagi untuk memasuki area ini tidak ada pungutan biaya. Hanya ada kotak kecil untuk sumbangan sukarela pengunjung di dekat pintu masuk. Di bagian belakang museum ini ada tempat ngopi. Di sebelah museum ini ada toko oleh-oleh. Dari sini kami melanjukan perjalanan ke kampung Ahok. Berdasarkan cerita dari pelukis di SD tadi, Belitung sedih sekali ketika Pak Ahok harus ke Jakarta, warga Belitung merasa sangat kehilangan, menurutnya Pak Ahok itu ramah sehingga tidak ada batasan dengan warga, beliau tidak hanya mengumbar janji tapi banyak membangkitkan kreativitas dan produktivitas warga. Dulu di sini banyak ikan arwana yang mahal itu, lalu kemudian semakin habis karena tidak ada pengelolaan, semua orang bebas mengambilnya. Oleh karena itu, berkuranglah mata pencaharian warga. namun, beliau bekerjasama membangun usaha warga dan memasarkannya. Kasihan sekali kalau mendengan beliau di jelek-jelekkan di Jakarta. Begitu tambahannya.



Di Kampung Ahok ini selain ada Rumah Pak Ahok, di sini juga ada kandang Keledai beserta 2 Ekor Keledai, lalu ada juga sanggar batik. Waktu menunjukkan pukul 4 sore, dalam list perjalanan seharusnya kami menuju ke pantai-pantai di bagian Timur atau bagian Selatan Belitung untuk mengejar Sunset. Tetapi, kami mempertimbangkan, jika kami memaksakan melihat sunset itu artinya kami pulang malam dan kami akan melewati jalur yang tadi, jalur yang sepi dan masih hutan. Kami tidak mau ambil resiko, sehingga kami memutuskan kembali ke penginapan. 

Selalu ada saja cerita yang tak terduga yang membumbui setiap perjalanan dan tak akan terlupakan. Dalam perjalanan pulang, motor yang saya kendarai mengalami ban bocor dan teman saya yang membawa motor yang satunya lagi sudah melaju jauh di depan kami. Seperti yang sudah saya jelaskan kondisi kanan kiri jalanan yang merupakan hutan dan rawa. Oke fix, saya dan teman yang saya boncengi harus mendorong motor bermeter-meter jauhnya untuk mencari perkampungan warga. Ada beberapa pengendara motor yang berhenti untuk menolong kami, tetapi mereka tak dapat berbuat banyak karena permasalahannya ada di ban dan tidak mungkin dengan kondisi aspal yang sangat panas sore itu kami memaksakan tetap menaiki dan menderek motor kami. Maka kemudian mereka pergi meninggalkan kami. Kami terus mendorong motor sekitar setengah jam lalu ada mobil bak membawa kaca melintas dan mendekati kami, tanpa banyak bertanya supir mobil itu bersama temannya langsung mengangkat motor kami ke atas mobilnya dan mengantar kami sampai di perkampungan warga dan mencarikan kami bengkel. Supir itu tidak meminta bayaran, namun kami memberikan sedikit uang untuk ucapan terima kasih. Di pertengahan perjalanan saat kami diantar, kami bertemu teman kami yang memutar balik arah untuk mencari kami. Kemudian mereka mengiringi perjalanan kami untum mencari bengkel. Setelah menemukan bengkel, kemudian teknisi di sana melihat kondisi ban kami. Ternyata ban motor kami bukan hanya tertancap paku, tetapi sudah robek. Akhirnya kami putuskan mengganti ban dalam saja. Sembari ban diganti, kami mengobrol dengan beberapa warga yang juga berada di bengkel tersebut. Pembahasan yang cukup menarik, mereka menunjukkan bahwa orang-orang Belitung itu baik, orang-orang di Belitung tidak pernah protes apapun kebijakan pemerintah, sedangkan kalau mereka lihat di tv saja, di Jakarta baru naik harga BBM 500 rupiah saja sudah demo katanya. Disini harga BBM 9rb/liter tetapi warga Belitung tidak mengeluhkan hal itu. Katanya, kalau main ke Belitung kalian harus tahu dan coba komoditi hasil perkebunan di sini yaitu lada, lada di Belitung itu berbeda dari lada di tempat lain. 

Singkat cerita kami mengobrol, akhirnya motor kami selesai diganti ban dalamnya. Dan, tidak di sangka-sangka !! Biaya ganti ban dalam pun saya bilang MURAH !! Kenapa?? Saya ganti ban dalam hanya 40rb dengan ban bermerk yang di Jakarta bisa-bisa 50rb. Lalu, dengan biaya segitu di Jakarta Tukang Tambal Ban itu ngampar bisa jarak 10 meter ada Tukang Tambal Ban lainnya. Sedangkan di Belitung? Di sepanjang perjalanan tadi? Jauh , jarang ada dan sepi customernya tapi mereka tidak mematok harga tinggi.

Belum selesai cerita berkesan kami, setelah kami melanjutkan perjalanan mungkin sekitar setengah perjalanan, motor yang teman saya kendarai kehabisan bensin. Haha entah kami bukannya marah dan kesal karena lelah, justru kami tertawa dan menikmatinya, terpaksa saya harus menstut motor tersebut dengan kaki kiri saya. Kami mencoba cara itu untuk puluhan meter saja, karena ternyata sulit sekali dan jauh sekali untuk menemukan perkampungan berikutnya. Akhirnya, saya putuskan untuk menghentikan cara itu dan membiarkan teman saya menunggu sedangkan saya jalan duluan untuk mencari bensin di perkampungan berikutnya. Finally, kami masih dilindungi Sang Pencipta, kami menemukannya dan membawa beberapa botol bensin. Perjalanan kami lanjutkan ke pusat kota di Tanjung Pandan yaitu Jalan Sriwijaya untuk menyantap makan malam seafood yang terkenal enak di Belitung dan mencicipi Sup Kepiting serta dilengkapi dengan Es Jeruk Kunci. Lengkap sekali !


Semua makanan yang kami makan tadi cukup enak dengan harga yang standar. Kemudian kami kembali ke penginapan untuk istirahat dan mempersiapkan diri untuk mengejar sunrise esok hari. Tak henti-hentinya kami mengucap syukur atas semua rangkaian perjalanan hari ini. Belitung bukan hanya kota yang bersih dan penataan yang baik, tetapi orang-orangnya benar-benar RAMAH, TERTIB, SANTUN DAN BAIK HATI. Proud of Belitung !

Baca juga Part 2 dan 3 :

Comments

Popular posts from this blog

Luka itu investasi

Resep Simpel Rawon Surabaya

Persiapan Pernikahan - Part 1