Anger
"Mengatasi Amarah Dengan Cara Yang Sehat"
Gary Chapman
Gary Chapman adalah seorang penulis dari buku laris menurut The New York Times, Lima Bahasa Kasih. Dengan lebih dari 30 tahun pengalaman memberi konseling, ia memiliki suatu kemampuan yang luar biasa untuk menampilkan cermin perilaku manusia. Melalui bukunya ini Beliau bukan hanya menunjukkan kepada para pembaca di mana mereka salah, tetapi juga cara bertumbuh dan bergerak maju. Beliau berharap, dengan mengelola emosi kita maka kita dapat menyembuhkan relasi-relasi kita.
Amarah adalah suatu kelompok emosi yang mencangkup tubuh, pikiran, dan kehendak. Amarah adalah suatu respons terhadap beberapa kejadian atau situasi dalam hidup yang menyebabkan kejengkelan, rasa frustasi, rasa sakit, atau hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya bagi kita. Amarah disuburkan oleh perasaan kecewa, terluka, penolakan, dan malu. Amarah berlawanan dengan emosi kasih. kasih menarik kita ke orang tersebut, tetapi amarah membuat kita melawan orang tersebut.
Tubuh kita juga dapat terpengaruh oleh amarah. ketika seseorang marah, sistem saraf bekerja dan terjadi perubahan fisiologis di dalam tubuh.
Perubahan fisiologis inilah yang memberi orang perasaan kewalahan oleh amarah dan tidak mampu
mengendalikannya. Lalu amarah tumpah ke dalam tindakan. Kita tidak bisa
mengendalikan reaksi tubuh kita, tetapi kita bisa mengendalikan respon mental
dan fisik terhadap amarah.
Amarah adalah emosi yang muncul setiap kali kita
menjumpai napa yang kita anggap salah.
Dalam buku ini Penulis menyarankan cara merespon
amarah kepada seseorang yang memiliki relasi dengan kita, yaitu :
- Apakah respon saya positif, apakah itu memiliki potensi untuk membereskan kesalahan itu dan memperbaiki relasi ?
- Apakah respon saya penuh kasih – apakah repon dirancang bagi keuntungan orang yang kepadanya saya marah?
Amarah dapat diatasi dengan cara-cara yang sehat. berikut merupakan saran Penulis untuk dapat mengelola amarah kita menjadi produktif, yaitu :
- Secara sadar, kita perlu mengakui kepada diri kita sendiri bahwa kita sedang marah. kalau perlu katakan kepada orang yang membuat kita marah. akui perasaan tersebut.
- Kendalikan respon langsung kita
- Temukan fokus amarah kita. Mengapa kita marah, apakah memang ada yang salah dengan orang tersebut atau justru pada diri kita?
- Analisa pilihan-pilihan kita
- Ambil tindakan yang membangun
Dalam buku ini, Penulis membagi amarah menjadi dua, yaitu definitife dan terdistorsi. Amarah Definitife
adalah amarah yang terjadi terhadap kesalahan apapun yang benar-benar adalah
kesalahan, perilaku yang salah, ketidakadilan, melanggar hukum. Ini adalah
amarah yang abasah. Sedangkah amarah Terdistorsi adalah amaran yang tidak absah, Karena amarah ini dipicu oleh kekecewaan belaka,
keinginan yang tidak tercapai, suasana hati yang buruk, amarah terhadap
kesalahan yang dianggap terjadi, padahal tidak ada kesalahan apapun. Jika kita
ingin memiliki suatu respon yang bijak terhadap amarah, pertama-tama kita perlu membedakan apakah amarah itu di
dasarkan pada perlakuan salah yang actual. Ini merupakan langkah dalam
mengendalikan respons langsung kita. Ada dua pertanyaan penting dalam
menetapkan keabsahan amarah, yaitu kesalahan apa yang telah dilakukan? Dan
apakah saya yakin saya memiliki semua faktanya?.
Dalam buku ini
pun, penulis memebrikan kita saran untuk mengelolah amarah kita baik amarah
yang diam, bahkan amarah yang sudah bertahun-tahun. Pada intinya kita harus
mengakui bahwa diri kita mengalami amarah dan meminta bantuan orang lain untuk
melakukan suatu perubahan, baik itu oleh orang yang kepada kita berbuat salah
atau juga kepada orang lain sebagai pihak ketiga untuk melakukan proses
rekonsiliasi. Dan yang paling penting adalah mencari pengampunan.
Dalam buku ini,
penulis mengajak kita untuk menangani amarah kita terhadap diri sendiri dan
kepada orang yang marah. Buku ini sangat membantu pembaca untuk belajar
mengakui perasaan amarahnya dan menanganinya, karena penulis merangkum semua
aspek kehidupan yang berhubungan dengan amarah, bahkan penulis menulis
cara-cara yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya, yaitu sesuai dengan kepada
siapa amarah itu terjadi. Penulis memberikan hal-hal yang sebenarnya cukup
mudah untuk kita lakukan , hanya permasalahannya apakah hati kita mau untuk
belajar dan mengampuni?. Ketika kita mau untuk diajar dan tunduk, kita akan
dengan mudah untuk menangani masalah amarah kita.

Comments
Post a Comment